Suhendri, Warga Kalimantan yang Tolak Rp 10 Miliar Demi Menjaga Hutan

Kakek Suhendri di lahan agroforestrinya | Photo by Karja/Charles

Kakek Suhendri, begitulah sapaan akrabnya. Kakek berusia 78 tahun ini tengah viral di dunia maya karena prinsipnya yang begitu teguh.

Bagaimana tidak? Suhendri berhasil membangun kawasan hutan dengan sekitar 60 spesies tanaman, lewat jerih payahnya sendiri selama 30 tahun lebih. Hutan yang ada di Jalan Pesut, Kelurahan Bukit Biru, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini memang terlihat banyak pepohonan dengan tinggi sekitar 20-30 meter.

Sapaan hangat dari Kakek dan Nenek Suhendri tampak dirasakan ketika Karja menyambangi kediamannya di sekitar hutan miliknya, Jumat (8/11).

Dengan semangat Suhendri menceritakan kisahnya dalam membangun agroforestri pada lahannya yang diselingi dengan candaan dan nasihat untuk anak-anak muda, berikut fakta-faktanya.

1. Jatuh bangun mewujudkan hutan impiannya
Beberapa karya tulisannya dengan gambar ilustrasi alam semesta tentang menjaga Bumi. | Photo by Karja/Charles

"Ada bahasanya dari dulu, Pulau Kalimantan tidak boleh dirusak karena sebagai paru-paru dunia."
- Suhendri, pemilik hutan agroforestri yang menolak 10 miliar Rupiah

Berawal dari quotes di atas, Suhendri yang merupakan perantauan dari Jawa memiliki mimpi dan inspirasi di manapun dirinya berada, ia akan mencari lahan dan membangun hutan.

"Saya belajar-belajar, saya ini bukan ahlinya pertanian, bukan ahlinya kehutanan, tetapi karena merantau dan saya tidak mau terlibat dalam bahasanya pengangguran (menjadi pengangguran), akhirnya saya coba," ujar Suhendri dengan penuh semangat.
Beberapa karya tulisannya dengan gambar ilustrasi alam semesta tentang menjaga Bumi. | Photo by Karja/Charles


Awalnya Suhendri hanya meminjam lahan orang untuk ditanami berbagai macam tanaman. Seiring berjalannya waktu, hasil pertanian yang dihasilkan cukup baik. Hal tersebut mengundang iri hati dari beberapa orang di sekitarnya yang ingin mengusir dirinya.
Majalan Jepang yang sempat mewawancarai Kakek Suhendri. | Photo by Karja/Charles

Pertolongan akan datang kepada orang yang memiliki niat yang baik. Benar saja, Suhendri ditawari untuk membeli sebuah lahan dengan luas 1,5 hektare seharga Rp 100 ribu pada 1978.

Pembayaran lahan tersebut diperolehnya dari hasil bercocok tanam dengan menyicilnya sebanyak empat kali. Barulah pada tahun 1980, Suhendri menggarap lahan tersebut secara serius dengan konsep agroforestri.

"Di sini ada istilahnya agroforestri, agro artinya pertanian, forestri artinya hasil kehutanan. Ada peranan pertanian sebagai ekonominya, peranan kehutanan sebagai ekologinya, mengkombinasikan pertanian dan kehutanan, jangka pendek dan jangka panjang," Suhendri menjelaskan dengan begitu sigap.

2. Konsep agroforestri yang rela diwariskan kepada siapa saja yang memiliki hati yang tulus untuk menjaganya
Pepohonan dengan tinggi puluhan meter tumbuh dengan baik di lahan agroforestri dari Kakek Suhendri. | Photo by Karja/Charles

Kakek Suhendri juga telah berkomitmen untuk 'mewariskan' hutannya kepada pihak yang dirasa cocok untuk melanjutkan perjuangannya itu.

"Siapapun yang menjadi penerus silakan, walaupun orang 'setan' silakan kalau bisa mengurus, walaupun anak cucu saya tidak bisa, tolak!" katanya dengan lantang.
Pepohonan dengan tinggi puluhan meter tumbuh dengan baik di lahan agroforestri dari Kakek Suhendri. | Photo by Karja/Charles

Bahkan, Suhendri menggarisbawahi apabila nantinya sudah ada penerus yang melanjutkan perjuangannya maka harus dilandasi hati yang tulus dalam melestarikannya, tidak ada eksploitasi sama sekali.

"Yang penting bertanggung jawab, Ini tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh untuk kepentingan pribadi, terkecuali roboh baru dimanfaatkan boleh saja," tambah Suhendri.

Intinya, alam semesta sendirilah yang akan menyeleksi siapa pribadi yang tepat untuk melanjutkan perjuangan dari Suhendri.

3. Menolak Rp 10 miliar demi menjaga hutan guna keselamatan manusia ke depannya
Beberapa tulisan Suhendri dengan dokumentasi dari media-media cetak yang telah mewawancarai sebelumnya. | Photo by Karja/Charles

"Walaupun hutan saya mau dibeli 100 miliar Rupiah, tidak akan saya jual, apalagi Rp 10 miliar, percuma. Kalau dijual bakal rusak lah, nanti dibikinkan mal, perumahan"
- Suhendri, pemilik hutan agroforestri yang menolak 10 miliar Rupiah

Prinsip kehidupan yang kuat ditunjukkan oleh seorang Suhendri. Di saat banyak orang tergiur dengan tawaran harta, tidak terhadap Suhendri. dirinya dengan tegas dan gamblang menyatakan bahwa lahan hutannya tidak akan dijual kepada siapa-siapa.
Salah satu pohon gaharu yang tertanam di lahan dari Kakek Suhendri | Photo by Karja/Charles

Tidak hanya satu orang, ada juga yang datang dari Yogyakarta yang ingin membeli lahan Suhendri guna dibuat perumahan. Dengan lantang dan tegas Suhendri langsung menolak mentah-mentah penawaran itu.

"Saya tidak pernah memikirkan masalah uang, bagaimana memikirkan keselamatan manusia yang mana tadi hutan berhubungan dengan manusia, terutama aspek oksigennya," tambahnya.

Pesan untuk anak muda
Ada sedikit pesan singkat dari Kakek Suhendri untuk kalian para anak muda, didengarkan yah!

sumber : kumparan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.